Sinopsis
Arte berlatar di Eropa abad
pertengahan, menceritakan tentang seorang gadis bangsawan bernama Arte yang
mendalami seni berkat ayahnya yang memberikan lingkungan dan mendukung dalam
hal yang ia suka.
Namun semenjak kematian
ayahnya, sang ibu menyuruh Arte untuk berhenti melukis dan mulai menjadi
seorang bangsawan wanita pada umumnya. Tentu saja Arte menolak, dirinya tak
ingin hidup seperti dalam sangkar burung. Ia ingin melakukan hal yang ia sukai,
apapun ia lakukan demi keinginannya yang besar untuk menggambar. Ia bahkan
sampai meninggalkan rumahnya untuk mencari kerja di studio-studio seni yang ada
di kota.
Seluruh studio yang didatangi
Arte menolak karena ia merupakan seorang wanita dan keturunan bangsawan. Tapi takdir mempertemukan dia dengan Leo,
pemilik studio yang bekerja sendiri. Mulai dari sinilah kehidupan Arte yang
baru dimulai.
Isu yang
takkan Pernah Habis Untuk dibahas
Anime ini mengangkat isu
Feminisme dan kesetaraan, bukan hanya kesetaraan gender yang gua maksud sini.
Tapi seluruh kesetaraan, entah itu usia, jenis kelamin, kasta, dan lain lain.
Konsep yang diusung dalam anime ini sudah sangat familiar di telinga kalian, "Perjuangan
seorang gadis dalam mengejar impiannya serta mempertahankan idealismenya". Dari hal klise namun eksekusinya tepat.
Arte yang hidup di zaman di mana
diskriminasi terhadap wanita masih sangat tinggi berjuang untuk melepaskan
dirinya dari belenggu aturan seperti ‘Wanita hanya ditakdirkan untuk menikah’
atau ‘Wanita hanya boleh melaksanakan tugas rumah tangga’.
Pengembangan
Karakter yang biasa aja
Karakter Arte sudah dibuat
menarik, berani, berkharisma, positif, penuh semangat dan idealis pada awalnya.
Hanya tidak terlalu ditonjolkan, ini yang membuat gua agak malas menonton anime
ini. Tidak ada perubahan signifikan dari karakter Arte, semuanya sudah ada
diawal dan hanya ditonjolkan saja di setiap episode.
Tapi saat pergi dari rumah
tanpa pikir panjang alias gegabah, Arte yang sekarang dibuat lebih berpikir
kedepan. Ditunjukan dari episode 7 saat Bangsawan Venesia merekrut Arte untuk
jadi pelukis potret keluarganya sekaligus mengajar etika pada keponakannya,
tentunya itu kesempatan emas. Tapi Arte berpikir panjang untuk menolak tawaran
tersebut walaupun pada akhirnya ia setuju karena balas budi.
Arte belajar pengalaman hidup
di setiap pekerjaannya, tapi menurutku yang paling bagus itu saat dia belajar
dari melukis Lonte Intelektual tarif
mahal.
Saat melukis Lonte
Intelektual, ia belajar apa itu cinta dan bagaimana cinta bisa menenggelamkan
masa depan. Masalah bagaimana cinta bisa menenggelamkan masa depan dijelaskan
dengan singkat, padat, jelas, dan mudah dipahami.
Heroine yang
juga Waifuable
Heroine satu ini sangat
Waifuable bukan karena body goalsnya maupun paras over cantiknya, tapi karena
karakternya yang pekerja keras, ramah, positif, dan rajin. Tapi heroine ini
tidak pantas jadi waifu para wibu denial nan norak serta cabul yang
teriak-teriak ‘Sagiri LonT’ atau komentar ‘Aku cr00t’ di foto cosplayer.
Kenapa? Coba kau pikir saja sendiri.
Scene
flashback yang Tidak Perlu dan Komedi Garing
Ingat episode pertama saat
ibunya membakar hasil gambar Arte? Dia kaget dan menampilkan wajah terkejut
aneh yang dibuat bukan lain untuk tujuan komedi. Tapi itu garing banget,
penempatannya kurang tepat menurut gua. Tidak hanya di scene itu, di scene lain
pun sama. Banyak anime yang menggunakan jokes sama tapi penempatannya pas dan
bisa lucu seperti Konosuba misalnya.
Scene flashback yang sangat
tidak perlu ini mengganggu saat menonton, ini ada di episode 3 saat Arte dan
Leo kabur dari rumah sakit lalu mengumpat di gang kecil dengan Leo mendekap
Arte. Scene ini diulang saat Arte sudah di studio yang lagi terdiam memikirkan
rasa sakit di dadanya saat didekap Leo. Itu sesuatu yang sangat mengganggu saat
menonton, karena penggambarannya saat didekap itu sangat jelas dan pengulangan
scenenya bener-bener sama dengan saat dia didekap. Ahh, scene ini juga diulang
di episode 4.
Animasinya saat
makan yang kurang bagus
Animasinya kurang enak
dipandang saat para karakter sedang makan atau minum, saya ambil contoh saat
Leo dan Arte lagi makan bareng di Episode 4. Mereka makanan dan minumannya hanya di dekatkan ke bibir dan selesai, itu agak kurang sedap dipandang.
Kesimpulan
Akhir
Arte adalah kisah yang sangat
inpsiratif tentang remaja yang mengejar impian sembari melawan diskriminasi
kelamin. Unsur historicalnya sangat kuat sampai sampai ku tertarik dengan era
renaisans dan seni dari abad 16 yang melahirkan seniman hebat seperti Leonardo
Da Vinci.
Secara keseluruhan anime ini
memang bagus dengan score MAL 7.2, tapi kekurangannya seperti yang kusebutkan
sebelumnya. Isu feminisme diangkat menjadi sebuah karya itu luar biasa
menurutku karena masih banyak yang salah kaprah tentang isu ini.
Banyak yang menyamakan Feminis
dengan Feminazi, kedua hal tersebut sebenernya berbeda. Feminis memperjuangkan hak
yang sama terhadap laki-laki sedangkan Feminazi menuntut bahwa wanita
derajatnya lebih tinggi dibandingkan pria. Bahasa kasarnya mungkin ‘Pria
budaknya Wanita’. Jadi jangan sampai salah membedakan Feminis dan Feminazi ya,
niat mau terlihat open minded malah terlihat bodoh.


1 Komentar
Mantap nih. Rekomen banget buat di tonton
BalasHapus