Review Anime Arte - Feminisme dalam Seni?

Halo! VVibu Sampah di sini! Postingan kali ini membahas tentang anime. Anime ini tayang pada Spring 2020, artinya ini anime pertama yang ku ulas. Semoga tertarik dengan tulisan ini. Selamat membaca!

Sinopsis
Arte berlatar di Eropa abad pertengahan, menceritakan tentang seorang gadis bangsawan bernama Arte yang mendalami seni berkat ayahnya yang memberikan lingkungan dan mendukung dalam hal yang ia suka.
Namun semenjak kematian ayahnya, sang ibu menyuruh Arte untuk berhenti melukis dan mulai menjadi seorang bangsawan wanita pada umumnya. Tentu saja Arte menolak, dirinya tak ingin hidup seperti dalam sangkar burung. Ia ingin melakukan hal yang ia sukai, apapun ia lakukan demi keinginannya yang besar untuk menggambar. Ia bahkan sampai meninggalkan rumahnya untuk mencari kerja di studio-studio seni yang ada di kota.
Seluruh studio yang didatangi Arte menolak karena ia merupakan seorang wanita dan keturunan bangsawan.  Tapi takdir mempertemukan dia dengan Leo, pemilik studio yang bekerja sendiri. Mulai dari sinilah kehidupan Arte yang baru dimulai.

Isu yang takkan Pernah Habis Untuk dibahas
Anime ini mengangkat isu Feminisme dan kesetaraan, bukan hanya kesetaraan gender yang gua maksud sini. Tapi seluruh kesetaraan, entah itu usia, jenis kelamin, kasta, dan lain lain. Konsep yang diusung dalam anime ini sudah sangat familiar di telinga kalian, "Perjuangan seorang gadis dalam mengejar impiannya serta mempertahankan idealismenya". Dari hal klise namun eksekusinya tepat.
Arte yang hidup di zaman di mana diskriminasi terhadap wanita masih sangat tinggi berjuang untuk melepaskan dirinya dari belenggu aturan seperti ‘Wanita hanya ditakdirkan untuk menikah’ atau ‘Wanita hanya boleh melaksanakan tugas rumah tangga’.

Pengembangan Karakter yang biasa aja
Karakter Arte sudah dibuat menarik, berani, berkharisma, positif, penuh semangat dan idealis pada awalnya. Hanya tidak terlalu ditonjolkan, ini yang membuat gua agak malas menonton anime ini. Tidak ada perubahan signifikan dari karakter Arte, semuanya sudah ada diawal dan hanya ditonjolkan saja di setiap episode.
Tapi saat pergi dari rumah tanpa pikir panjang alias gegabah, Arte yang sekarang dibuat lebih berpikir kedepan. Ditunjukan dari episode 7 saat Bangsawan Venesia merekrut Arte untuk jadi pelukis potret keluarganya sekaligus mengajar etika pada keponakannya, tentunya itu kesempatan emas. Tapi Arte berpikir panjang untuk menolak tawaran tersebut walaupun pada akhirnya ia setuju karena balas budi.  
 Heroine yang Belajar dari Setiap Pekerjaan
Arte belajar pengalaman hidup di setiap pekerjaannya, tapi menurutku yang paling bagus itu saat dia belajar dari melukis Lonte Intelektual tarif mahal.
Saat melukis Lonte Intelektual, ia belajar apa itu cinta dan bagaimana cinta bisa menenggelamkan masa depan. Masalah bagaimana cinta bisa menenggelamkan masa depan dijelaskan dengan singkat, padat, jelas, dan mudah dipahami.



Heroine yang juga Waifuable
Heroine satu ini sangat Waifuable bukan karena body goalsnya maupun paras over cantiknya, tapi karena karakternya yang pekerja keras, ramah, positif, dan rajin. Tapi heroine ini tidak pantas jadi waifu para wibu denial nan norak serta cabul yang teriak-teriak ‘Sagiri LonT’ atau komentar ‘Aku cr00t’ di foto cosplayer. Kenapa? Coba kau pikir saja sendiri.

Scene flashback yang Tidak Perlu dan Komedi Garing
Ingat episode pertama saat ibunya membakar hasil gambar Arte? Dia kaget dan menampilkan wajah terkejut aneh yang dibuat bukan lain untuk tujuan komedi. Tapi itu garing banget, penempatannya kurang tepat menurut gua. Tidak hanya di scene itu, di scene lain pun sama. Banyak anime yang menggunakan jokes sama tapi penempatannya pas dan bisa lucu seperti Konosuba misalnya.
Scene flashback yang sangat tidak perlu ini mengganggu saat menonton, ini ada di episode 3 saat Arte dan Leo kabur dari rumah sakit lalu mengumpat di gang kecil dengan Leo mendekap Arte. Scene ini diulang saat Arte sudah di studio yang lagi terdiam memikirkan rasa sakit di dadanya saat didekap Leo. Itu sesuatu yang sangat mengganggu saat menonton, karena penggambarannya saat didekap itu sangat jelas dan pengulangan scenenya bener-bener sama dengan saat dia didekap. Ahh, scene ini juga diulang di episode 4.

Animasinya saat makan yang kurang bagus
Animasinya kurang enak dipandang saat para karakter sedang makan atau minum, saya ambil contoh saat Leo dan Arte lagi makan bareng di Episode 4. Mereka makanan dan minumannya hanya di dekatkan ke bibir dan selesai, itu agak kurang sedap dipandang.

Kesimpulan Akhir

Arte adalah kisah yang sangat inpsiratif tentang remaja yang mengejar impian sembari melawan diskriminasi kelamin. Unsur historicalnya sangat kuat sampai sampai ku tertarik dengan era renaisans dan seni dari abad 16 yang melahirkan seniman hebat seperti Leonardo Da Vinci.
Secara keseluruhan anime ini memang bagus dengan score MAL 7.2, tapi kekurangannya seperti yang kusebutkan sebelumnya. Isu feminisme diangkat menjadi sebuah karya itu luar biasa menurutku karena masih banyak yang salah kaprah tentang isu ini.
Banyak yang menyamakan Feminis dengan Feminazi, kedua hal tersebut sebenernya berbeda. Feminis memperjuangkan hak yang sama terhadap laki-laki sedangkan Feminazi menuntut bahwa wanita derajatnya lebih tinggi dibandingkan pria. Bahasa kasarnya mungkin ‘Pria budaknya Wanita’. Jadi jangan sampai salah membedakan Feminis dan Feminazi ya, niat mau terlihat open minded malah terlihat bodoh.

Posting Komentar

1 Komentar